Some mails from readers

August 28th, 2007 by bukuterbuka

Dalam waktu-waktu belakangan ini, ada beberapa email dari pembaca yang masuk ke inbox-ku. Respon-respon kecil yang kadang menghibur juga.. berikut beberapa di antaranya :

———————————————————————————–

E-mail ini dikirim lewat http://www.mediakita.com from:
Bagus Sudiarto

Hai Feby,salam kenal…
Namaku Bagus,28th,Surabaya. Aku suka skali baca;dari koran,novel,cerpen atau apa aja(kecuali buku pelajaran). Beberapa hari yg lalu scara ga sngaja aku menemukan buku SIMFONI BULAN di Gramed dngn harga Rp5000,-(Obral). Email ini terkirim stelah aku selesai membacanya. Wow…sbuah novel yg menarik,dan… Sori,aku sampai ga bisa menggambarkan! Aku bukan seorang kutu buku sejati yg selalu mencari novel keluaran terbaru. tp Simfoni Bulan bener2 lain dari ribuan bacaan yang pernah terekam di otakku,sdikit mengusik sisi kosong dlm hati. Ingin skali aku mengenal sosok Bulan. Mencoba bersahabat,saling curhat ataupun bersetubuh dengannya(tuh kan,sisi liarku ikut terhanyut)! Kalo ini ‘bener’ Novel pertama Feby,please pertahankan/rawat ide & isi pandangamu dlm berkarya! Skali lg aku salut,dan merasa bruntung skali bisa berkesempatan menikmati karya Feby ini. Oh ya,kalo ada karya Feby yg lain kirimin dong salah satunya skalian Foto & Tandatangannya! Daah Feby,doaku untuk karyamu selalu…
BAGUS SUDIARTO
KALI KEPITING JAYA 6/8
SURABAYA,60132.
——————————————————————————-

This is an enquiry e-mail via http://www.mediakita.com from:
aldi

Saya udah baca bukunya. Bagus, cuma ada satu kelemahannya. Terlalu sering sang Bulan merana, seakan hidup ini isinya hanya derita. sDikit sekali kebahagiaan yang dirasakan Bulan. Ditambah lagi karakter-karakter pendukung lainnya seakan cuma numpang lewat doang. Dan semuanya terlalu cepat berakhi (Ini sering saya dapati di novel2 Indonesia lainnya). Semua karakter terlalu cepat dibuat mati tanpa ada solusi masalah. Kejadian satu dengan lainnya terlalu cepat berlalu sehingga belum dapat mendalami cerita, sudah harus mendalami kisah lainnya. Tapi keseluruhan ceritanya unik.

Terima Kasih…

———————————————————————————–

Yoga Widianto <yoogha@gmail.com> wrote:
dear Mbak Feby
yoga udah baca novelnya Mbak Feby yang simfoni bulan, terus terang yoga menyayangkan sekaligus gembira karena bisa beli novel itu dengan harga murah, jadi ga perlu merogoh kocek dalam-dalam. Mbak ada beberapa komentar mungkin yang pengen yoga ungkapkan.pertama karakternya bulan itu keras kepala ya, dan temperamental. apa sebenarnya karakter ini mewakili Mbak sendiri atau terinspirasi dari seseorang karena bulan juga seorang jurnalis disini.jadi pastinya ada sedikit pengaruh juga dari mbak mungkin.Ceritanya menurutku cukup provokatif, aku sampai terbawa di dalam karakternya bulan ini,dan apa emang dibuat ending menggantung jadi pembaca bebas menentukan akan diapakan Gangga pada akhirnya.Bagaimana Mbak bisa meriset sedetail itu tentang Kramtung, apa mbak sendiri pernah mensurvei tempat itu?seperti kata Visya harus mengalami sendiri maka novel itu akan lebih hidup? Apa benar mbak kehidupan para penulis itu terkatung-katung? karena saya juga agak terpengaruh dengan perspektif yang ada dalam novelnya mbak, agak ragu untuk meneruskan usahaku jadi penulis. terus terang bagian itu jadi kurang memotivasi para penulis amatir seperti saya yang membaca karyanya mbak. mengapa Mamanya bulan harus melarang anaknya dekat dengan dunia pelacuran padahal dia sendiri juga bisa disebut pelacur kan? karena kedua anaknya juga lahir dari bibit haram kelakuan orang tuanya. Varanasi india, dapat info darimana Mbak, kok tahu sedetail itu sampai ada upacara kremasi, kondisi disana termasuk lokasi-lokasinya? Sayang banget ya Siti harus mati, padahal dia harus menghidupi tujuh saudaranya, terus bagaimana nasib adek-adeknya Siti? kok nggak dijelasin lebih lanjut? hubungannya ama Steve juga gimana? seakan Bulan putus hubungan gitu aja dan jadi germo bagi dirinya sendiri. Apa nilai persahabatan hanya bisa diukur dari uang saja dan sekedar relasi profesional (sebatas profesionalitas). Overall, menurutku novel ini adalah yang paling mudah kupahami daripada sekumpulan novel lainnya yang pernah kubaca, gampang dicerna isinya, dan ceritanya cukup mengejutkan juga. kalau menurut Mbak endingnya mau dikemanain? Sekian komentar dariku, Sukses ya Mbak n doain Yoga juga bisa tetep menulis meskipun belum ada kepastian diterimanya naskah ini kapan. kalau ada kata-kata yang menyinggung yoga minta maaf yang sebesar-besarnya. Thanks…. A lot. 

Kejar Tayang Novel Adaptasi

August 28th, 2007 by bukuterbuka

Republika, Sabtu, 14 Juli 2007

Mengikuti Jadwal Kejar Edar

Dari 44 novel adaptasi film yang diterbitkan Gagas Media, nyaris seluruhnya punya sejarah yang sama: Dikerjakan dalam tempo sekejap. ”Paling-paling seminggu,” kata Rudy Gunawan, pemimpin redaksi Gagas Media yang menulis lima novel adaptasi.

Kualitas memang penting. ”Tapi ketepatan waktu lebih penting,” tutur Feby Indirani. Maklum, ini adalah novel-novel kejar edar. Novel-novel ini harus sudah rampung begitu filmnya usai diedit dan siap diluncurkan. Saat menulis Lantai 13, misalnya, Feby menulis novel 100 persen berdasarkan skenario filmnya lantas dimodifikasi. ”Sementara film finalnya sendiri belum sempat saya tonton.”

Kerja kilat tentu saja membutuhkan penulis yang tepat. Menurut Rudy, ide meluncurkan novel berbarengan dengan pemutaran perdana filmnya muncul pertama kali saat shooting film Brownies (2004). Saat itu waktunya sudah mepet, Rudy pun harus berpikir keras. Muncul satu nama: Fira Basuki. ”Kebetulan Fira yang siap ngebut saat itu,” kata Rudy seraya mengatakan untuk penulisan novel adaptasi memang dibutuhkan penulis berkualifikasi tinggi. Novel Brownies sendiri lumayan tebal, 240 halaman.

Lantai_13_1Saat menyusun Lantai 13 pun Feby cuma diberi waktu seminggu. Ketika waktu deadline kian dekat, ‘naasnya’, Feby yang wartawan sebuah majalah ekonomi tiba-tiba ditugaskan oleh kantornya meliput ke Malaysia. Maka, Feby pun harus kerja lebih ekstra, tak boleh ada waktu terbuang sedetik pun. Jadinya,”Di airport sambil menunggu boarding saya terus ngetik di laptop,” ujar dia.

Veven Sp Wardhana melakukan hal serupa. Ia malah menuntaskan novel 12:am yang tebalnya 176 halaman dalam tempo lima hari. Saat merampungkan Tusuk Jelangkung (2004), Rudy pun mengaku harus tak tidur. Lantaran proyek instan, ”Peranan editor amat penting di sini,” Mereka harus benar-benar membaca naskah secara teliti. Takut banyak salahnya,” kata dia.

Berapa honor yang untuk proyek ngebut ini? Apakah ada keistimewaan? Lazimnya, kata Feby, untuk novel-novel yang dibuat berdasarkan ide sendiri, penulis memperoleh royalti 10 persen per penjualan buku. Sementara, untuk novel adaptasi, yang nota bene idenya dari penulis skenario layar lebar, penulis hanya memperoleh royalti lima persen per penjualan buku.

Tren baru
Novel adaptasi film memang terbilang tren baru di Indonesia. Para penulis pun ketiban pulung. Seno Gumira Ajidarma disebut-sebut sebagai orang pertama yang mengadaptasi film ke lembar novel. Pada 2003, Seno menyusun novel Biola tak Berdawai (penerbit Akoer) yang diadaptasi dari film Biola tak Berdawai (2003) arahan sutradara Sekar Ayu Asmara.

Di Amerika Serikat sekalipun, ”Tren novel adaptasi film terhitung masih baru,” kata Rudy Gunawan, pendiri penerbit Gagas Media, seraya merujuk novel I, Robot, yang ditulis berdasarkan skenario film I, Robot arahan Alex Proyas tahun 2004.

Gagas Media terhitung yang paling getol memindahkan kisah film layar lebar ke format novel. Sejak menovelkan film 30 Hari Mencari Cinta pada 2003, hingga kini penerbit yang bermarkas di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, itu sudah mengadaptasi 44 judul film. Sebut saja Brownies (dinovelkan Fira Basuki), Alexandria (Salman Aristo), Cinta Silver (AS Laksana), D’Bijis (Adhitya Mulya), Love is Cinta (Moammar Emka), Mendadak Dangdut (Ninit Yunita), dan lain-lain.

Enak dan cepat dibaca
Jangan bayangkan membaca novel-novel adaptasi film seperti halnya melahap novel detektif ruwet dari Sherlock Holmes atau Agatha Christie. ”Bahasa yang digunakan dalam novel-novel adaptasi terhitung ringan. Malah amat populer,” kata Feby.

Seorang pembaca kelas 2 SD yang ditemui Akmal Nasery mengaku hanya memerlukan waktu 3-4 jam nonstop untuk menuntaskan novel Naga Bonar Jadi Dua yang tebalnya 200 halaman. Seorang pembaca yang lain, cerita Akmal, melahap habis novel ini saat berangkat dari Bali ke Sumbawa.

Jika menonton film Cewe Matrepolis memakan waktu 1,5 jam-an, kata Feby, maka membaca novel Cewe Matrepolis setebal 252 halaman selesai sekitar 2-3 jam nonstop. ”Nyaris sama dengan lama waktu nonton filmnya,” kata alumnus Jurusan Ilmu Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.

Novel Adaptasi Skenario Film

August 28th, 2007 by bukuterbuka

Republika, Sabtu, 14 Juli 2007

Generasi Baca Film

Wajar jika pada mulanya orang ragu memproduksi novel adaptasi. Maklum, kata Rudy Gunawan, orang Indonesia kurang doyan membaca. Orang Indonesia lebih suka menikmati sesuatu lewat gambar-gambar bergerak. Tapi, kini, ”Jangan-jangan itu sudah berubah,” kata Rudy.

Ini memang fenomena menarik. Sebab banyak novel yang diluncurkan bersama dengan peluncuran film. Ketika film sedang main di bioskop, novel film tersebut beredar di pasaran. ”Orang malah bertanya-tanya. Kalau filmnya seperti ini, kira-kira kayak gimana ya cerita novelnya? Orang jadi penasaran!” kata Veven.

Dirilis April lalu, novel Naga Bonar Jadi Dua kini sudah memasuki cetakan keenam. Novel yang diterbitkan penerbit Akoer ini kabarnya terjual lebih dari 10 ribu eksemplar. Angka ini tak sebanding dengan jumlah penonton filmnya yang mencapai sekitar 1,5 juta hingga 2 juta orang. Tapi, untuk ukuran novel di Indonesia, tingkat penjualan di atas 10 ribu sudah tergolong sedap.

Itu pula yang terjadi pada novel horor Terowongan Cassablanca karya Ruwi Meita. Novel setebal 138 halaman itu, ”Sudah kejual 13.500 eksemplar,” kata Angel, staf promosi Gagas Media. Dalam seminggu, ”Cetakan pertamanya langsung habis di toko buku,” lanjut Angel soal novel yang dirilis Mei 2007 itu.

Sebagian konsumen menganggap novel-novel ini merupakan merchandise dari filmnya. Mereka tergiur ingin memilikinya juga. Yang jelas, menurut Rudy Gunawan, booming novel adaptasi adalah peluang menyemai kebiasaan membaca sejak dini pada anak-anak.

Foto_bangka_skala_kecil_1

Feby Indirani punya bukti soal antusiasme orang-orang membaca novel (adaptasi). Suatu waktu Feby dan teman-teman artis Cewe Matrepolis berkunjung ke Bangka untuk promosi film dan novel. Pengunjungnya banyak. Padahal di Bangka belum berdiri satu pun bioskop. ”Mereka tahu banyak film ini justru setelah membaca versi novelnya,” kata dia.

Gagas Media belum lama menggelar pameran sekaligus talkshow novel adaptasi di 20 kota kecil di Pulau Jawa. Ternyata, banyak ‘kutu novel adaptasi’. Dari 20 kota yang dikunjungi, ”Sebanyak 15 kota di antaranya dijejali peserta,” kata Angel, staf promosi Gagas Media.

(imy )

cEwE mAtRepolis

August 27th, 2007 by bukuterbuka

Cover_ceweini buku adaptasi film yang terbit tahun lalu. hm cerita yang menurut orang-orang ‘nggak feby banget’. Bisa jadi iya, tapi buatku tetap ada tantangan tersendiri dalam mengerjakannya. dari mulai menggenapi logika sampai mengatasi selera pribadi. but anyway, penjualan buku ini cukup bagus.

Well berikut ini adalah review yang pernah dimuat di Belia suplemen Pikiran Rakyat, Jawa Barat. (Thx for Syauqi)

———————————————————————————–

Belia baru kali ini nemuin sebuah novel yang based on movie script. Kalo film based on novel, kan, udah banyak. Dan novel based on film juga ada. Tapi yang satu ini agak unik, novel yang ceritanya dikembangin dari skrip film yang belum disyuting. "Pihak penerbit ngehubungin saya untuk ngebikin sebuah novel adaptasi dari skrip, jadi saat filmnya tayang di bioskop-bioskop, novelnya juga terbit," papar Feby, si penulis saat ngobrol sama belia.

Well, jujur aja, belia yang udah nonton film-nya, agak sedikit pesimis dengan buku ini. Kenapa enggak, film-nya enggak bagus. Biasa banget, plotnya nggak jelas, character buildingnya seperti yang dipaksakan, endingnya aneh, padahal tema dan ceritanya punya potensi buat ngebikin film yang punya judul sama dengan novelnya itu buat jadi film yang cukup bagus. Yah, sayang aja eksekusinya seperti yang enggak serius.

Anyway, yang dibahas di sini, mah, novelnya, bukan film-nya, oks? Dengan modal, "Ah pasti sama jeleknya dengan film-nya", belia ngebaca buku ini selama semaleman. Dan, hasilnya, sehalaman demi sehalaman saat ngebacanya, belia sedikit demi sedikit dibikin "enggak terlalu" kecewa sama cerita "Cewe Matrepoli$" yang udah belia tahu duluan dari film-nya.

Novelnya lebih kerasa intensitas konflik antar tokohnya. Dan pembaca juga bakalan lebih terlibat dengan karakternya. Kayla, adalah seorang cewek simpenan yang "terjebak" jadi simpenan gara-gara kabur dari ayahnya yang nyoba buat memerkosa dia. Cecille, adalah seorang cewek matre yang ketemu batunya saat dia beneran jatuh cinta dengan seseorang playboy beristri yang enggak segan buat manfaatin dirinya. Salma adalah seorang "anak baik-baik" yang punya pacar over protektif yang dikecewain sama ayahnya yang ternyata suka main perempuan. Lalu terakhir Donna, adalah cewek dengan badan subur, paling sering naksir lawan jenis, ditolak, dan disia-siain sama cowok.

Nah, keempatnya ini sohiban, dan sering sharing soal petualangan mereka mencari cinta sejati di dunia yang digambarin kejam banget ini sama yang si empunya skrip.

Kalo Belia udah nonton film-nya dan kecewa berat sama film-nya yang nampak pengen ngulang kesuksesan film dengan tema sejenis (inget "Virgin"?), well, coba, deh, baca bukunya. At least, Belia bakal dapet narasi yang lebih komprehensif dengan character building yang lebih enak, dan enggak berkesan dipaksain. Kalo Belia belum nonton filmnya, mendingan enggak usah. Sayang uang buat beli tiket bioskopnya mendingan dibeliin satu paket hemat hidangan di fast food terdekat. Baca aja versi bukunya…***

syauqy_belia@yahoo.co.uk

komentar Cak Bono

June 1st, 2007 by bukuterbuka

Moon_hurt

Feby Indirani, penulis dan jurnalis wanita yang kritis mengangkat kerumitan kultural, struktur sosial dan perlawanan terhadap mitologi. Dunia sosial dan terutama isu bernada feminisme kental mewarnai novel Simfoni Bulan. Bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Bulan. Perempuan dengan keinginan yang kuat yang terikat kuat oleh desakan superego yang mengitarinya. Sebagai persona yang menginginkan pencapaian atas aktualisasi diri, Bulan seakan harus mengalami serial kepahitan yang tak berujung.

Bulan sangat eksistensial-humanistik, percaya akan pencapaian maksimal. Sebagai seorang wanita muda yang ingin menjadi penulis ‘sejati’ dan karenanya harus merelakan tubuhnya sebagai alat yang memungkinkan dia mencapai tujuannya. Sebagai seorang wanita muda yang memuja dunia kepenulisan, ‘Vistya’, sang penulis sadomasokis memberinya pintu pertama yang menghantarnya sebagai seorang pelacur. Keputusan yang harus diambilnya selain untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga demi mendapatkan pengalaman langsung yang sekiranya akan menjadi pilar utama novel yang sedang ditulisnya.

Eksentrisisme menular, begitulah kira-kira gambaran awal pertemuan Bulan dengan penulis pujaannya. Kemampuan Bulan dalam mengidentifikasi, memproyeksi, dan mengalami katarsisme atas perilaku dan karya nyentrik Vistya membuat mereka terlibat dalam suatu hubungan yang tak lazim. Bagi Vistya yang berkelakuan serupa Marquis De Sade ini, hubungan mereka lebih dari sekedar guru-murid ataupun kekasih melainkan juga terikat oleh semacam takdir atau barangkali karma?

Vistya menjadi semacam gambaran ideal bagi seorang Bulan, yang seperti kebanyakan stereotip perempuan feminis harus tersuruk-suruk dengan hubungannya dengan lelaki. Karena hasrat dan keinginan yang harus berkonfrontasi dengan lingkungannya. Tentunya bukan tanpa sebab Bulan menjadi begitu keras kepala, dan berkeinginan kuat. Tindakan manusia selalu dikondisikan oleh lingkungannya karena tingkah laku manusia adalah merupakan tanggapan terhadap kondisi lingkungannya. Pergaulannya sebagai jurnalis yang terlibat secara emosional dengan pelacur Kramat Tunggak memberinya gambaran bahwa selain sebagai komoditas perempuan juga merupakan objek bagi konsumsi kaum lelaki. Dan, para pelacur itu merupakan korban moralitas semu yang malah menekan kehidupan perekonomian mereka setelah Kramat Tunggak mengalami penggusuran untuk dijadikan rumah peribadatan.

Bulan sendiri harus menelan kepahitannya sendiri atas kekritisannya tersebut. Kemudian, setelah mengundurkan diri sebagai wartawati serangkaian tragedi terus menguntitnya. Sebagai seorang ibu angkat atas anak temannya, pelacur yang tewas terbunuh, Bulan juga sempat menjalin hubungan yang kandas dengan lelaki gombal bernama Gangga. Semakin terasa kelam dengan kebuntuannya dalam menulis novel, dan dinistakan para lelaki bahkan sahabatnya sendiri sebagai pelacur gagal Dan, tak kalah pelik hubungannya dengan ibunya sendiri juga mengalami kemacetan yang parah.

Puncak keruwetan terjadi ketika Bulan tahu pembunuh temannya yang juga ibu kandung anak angkatnya. Di saat yang bersamaan Ibu Bulan juga menjelang ajal akibat sakit parah. Tak kuasa menahan tekanan realitas yang menusuknya, Bulan pingsan di rumah sakit yang kemudian dengan cara ‘ajaib’ bertemu dengan Vistya; yang kemudian memberikannya kelahiran baru yang semu.

Berdua menghabiskan waktu di

India

, Bulan pada akhirnya menetap di

India

setelah ditinggal pergi begitu saja oleh Vistya, hal yang mestinya sudah dia mengerti betul. Namun yang tak kalah pahit adalah ironisme di akhir cerita, membuat orkestrasi kepahitan Bulan semakin getir dan mengkristal.

Dalam psikoanalisa Freud dikenal istilh: Id, dorongan alamiah jiwa manusia untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan kehendaknya tanpa kendali yang terletak dalam pikiran anak-anak. Superego, perwujudan dari wewenang diluar dirinya yang merepresi dengan keras keinginan Id. Ego, atau kesadaran, sementara itu, adalah penyeimbang antara hasrat Id dan tuntutan pengendalian dan pembatasan dari Superego. Dalam hal ini Bulan adalah karakter atau katakanlah kepanjangan dari Id yang harus berkonfrontasi dengan Ibunya yang mewakili superego. Bulan harus berhadapan dengan masa lalunya yang membuat hubungan dengan ibunya tak lebih dari keterasingan atau saling meninggalkan satu sama lain; dan adiknya Adit adalah gambaran dari Ego yang berusaha menyeimbangkan dendam Bulan kepada ibunya.

Bulan telah lama kehilangan figur Ibu, sepertinya hal inilah yang mendorongnya untuk mengangkat Bayu sebagai anak. Yang pada akhirnya menjadi beban ekonomi yang merupakan salah satu pendorongnya umtuk menjadi pelacur. Yang menarik disini adalah ironisme betapa seorang perempuan cerdas dan berpendidikan dengan berbagai alasan berubah haluan menjadi seorang pelacur.

Sepertinya semuanya bersumber dan ditorehkan oleh masa lalu Bulan yang trauma berat ditinggalkan oleh ibunya, dan semakin pilu karena sosok Papa bahkan tak pernah ada untuknya. Menjadi ambisius dan terlibat seks dengan banyak lelaki termasuk ideologi berkesenian Vistya. Hasrat untuk melawan keadaan diri dan masa lalunya yang semakin mendorongnya menjadi perek. Itupun, nantinya Bulan harus menerima nista yang lebih lagi dari sahabtanya yaitu bahkan menjadi pelacur pun seorang Bulan yang cerdas dan kritis itu tak sanggup. Lalu kolong manakah lagi yang sanggup membuatnya nampak sebagai perempuan, sekaligus hebat dan humanistik jika baginya kehidupan terasa berusaha begitu keras menolaknya?

*Bono

Review Bukune : Four Thumbs for Feby

May 31st, 2007 by bukuterbuka

Penulis   : Feby IndiraniBukune_1
Jumlah halaman : x + 206 hlm
Tahun terbit  : 2006
Penerbit  : mediakita
ISBN   : 979-794-013-3

Siapa yang berani mengatakan menjadi pelacur itu mudah?
Kemarilah. Aku ingin sekali meludahinya. Sekarang. Saat ini juga.

Setelah lima tahun bekerja sebagai wartawan, Bulan beralih profesi jadi penulis novel. Bulan ingin menulis novel yang bercerita tentang pelacuran. Dapet ide ini karena saat masih bekerja sebagai jurnalis, ia sering ditugaskan untuk meliput penggusuran Keramat Tunggak. Di tempat itu, Bulan berkenalan dengan seorang pelacur, yang akhirnya, terbunuh. Pelacur itu menitipkan anaknya pada Bulan.

Ternyata, menulis enggak semudah yang dibayangkan. Visya, penulis terkenal yang diidolakannya, mengilhami Bulan untuk melakukan observasi partisipatoris. Supaya pembaca bisa merasakan karakter dalam novelnya nyata. Dengan bantuan seorang temannya, Bulan menjadi pelacur. Ia enggak bekerja sebagai pelacur kelas bawah di Kramat Tunggak, melainkan pelacur yang melayani orang-orang kelas atas.

Ternyata perjuangannya untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah berhenti menjadi jurnalis, enggak semudah bayangannya. Dan keputusan menjadi pelacur, berbalik menyerang batinnya. Siapa yang membunuh pelacur di Kramat Tunggak, juga menghantui pikirannya. Di saat ia merasa akan jatuh, Bulan malah bertemu dengan Gangga. Ia berhasil membangkitkan semangat Bulan. Tapi, saat kelihatannya semua mulai berjalan baik, Bulan harus kehilangan ibunya.

Kalimat pembuka Feby dalam Simfoni Bulan-nya emang ngeselin banget. Kesannya, nantangin. Siapa yang enggak panas, jadinya? Kami jadi pengen tahu pembuktiannya. Ternyata, Simfoni Bulan emang bagus banget buat di baca… Menarik!

Walaupun kesan awalnya dewasa banget, kami tetap ngerekomen siapa aja yang pengen mulai membaca bacaan-bacaan serius melalui buku ini. Soalnya, buku Feby ini, ceritanya mengalir banget, walaupun emang nyastra.

Plotnya tambal sulam. Rasanya seperti menyelesaikan sebuah puzzle. But, you won’t get lost in it! Ceritanya juga enggak mendayu-dayu: “aku menderita, tolong!” Enggak! Malah, kamu bakalan dapet perspektif baru untuk disikapi. Tentang nasib-nasib pelacur di Kramat Tunggak dan bagaimana Kramtung di lihat dari segi ekonomi. Bukankah hal-hal seperti itu—yang menambah wawasan—yang pengen kita baca?

Kami enggak pengen berkomentar lebih banyak lagi buat novel ini. Simfoni Bulan nyaris sempurna dalam setiap elemen. Two thumbs up untuk Feby! Four, with all thumbs and toe! Definitely Must Read!

Lebih Baik dari Ayu Utami?

May 16th, 2006 by bukuterbuka

MickiDi dalam setiap cerita, pasti ada sesuatu yang ‘stole the show.’
Yang artinya, sesuatu yang menarik simpati dan membuat audiens
membicarakannya padahal dia bukan tokoh utama. Sesuatu dengan karakter,
sesuatu dengan letupan dan percikan api dahsyat. Yang dapat
menghidupkan api imaginasi dan kreasi di hati. Itulah yang kudapat
dalam Novel perdana Feby Indirani ini: Simfoni Bulan. Melalui karakter
Visya.

   

Setiap
hendak memulai cerita baru, atau menulis apa pun juga, selalu terbersit
pikiran, mampukah aku melahirkan karakter seperti itu? Akh mungkin gayaku beda. Jangan sama
kan aku dengan Feby.
Dan kemudian terbersit lagi, apakah itu hanya justifikasi saja? Aku
menyukai buku Simfoni Bulan bukan hanya karena Visya. Tetapi
karena…apa?

   Plot.
Ditata sedemikian rupa sehingga aku bisa terbawa di dalamnya. Tentu,
meski hanya perlu 3 jam aku menyelesaikannya. Tapi itu dosis yang tepat
untuk terbuai didalamnya. Semua bermulai dari kalimat ini:    

Siapa yang berani mengatakan menjadi pelacur itu mudah?
Kemarilah. Aku ingin sekali meludahinya. Sekarang. Saat ini juga. (Aku tersenyum ketika membaca ini. Mau jadi Ayu Utami?)

   Ini
adalah cerita tentang seorang wartawan, yang keluar dari tempat
kerjanya untuk menyelesaikan novel. Namun ia kekurangan impuls kreatif,
novelnya tak kunjung selesai tertulis.   

Kemudian
cerita terus mengalir, kembali ke kejadian sebelumnya, saat Bulan, sang
tokoh utama, memutuskan untuk menjadi pelacur, demi sebuah proses
penulisan novel dengan metode mengalami. Kemudian diceritakan juga
bagaimana Bulan bertemu Visya, sang novelis fenomenal dengan ‘sedikit aliran darah setan ditubuhnya‘. (Istilah ini hanya rekaanku saja, merujuk ke sisi gelapnya karakter ini.) Disinilah terjadi point of no return,
di mana Bulan ‘diajarkan’ untuk melakukan proses mengalami sehingga
bisa menghasilkan tulisan yang bagus. Tidak berpura-pura jadi, tetapi
benar-benar menjadi. (Nice one, Feb.)

        Tengah-tengah
buku, aku merasa Feby lebih baik dari Ayu Utami. Tapi itu adalah
pandangan pribadiku. Orang boleh tidak setuju. Terus terang aku takut
dengan kevulgaran kalimat-kalimat Ayu Utami, meski aku mengakui buku
beliau adalah fenomenal, termasuk buku pertama yang membuatku melirik
sastra Indonesia.

   Tetapi
aku menemukan dosis yang pas buatku di buku Feby. Dosis campuran antara
kegelapan dan pencerahan. Tentang kehidupan para pelacur, kehidupan
para penulis, perjalanan plot dari kegelapan Kramat Tunggak ke
penyucian di Varanasi,

India.

    Tak
usah terlalu berpikir, baca saja buku ini, biarkan dirimu terbawa
dengan plot yang dirancang dengan bagus dan dibawakan oleh
karakter-karakter yang kuat.   

Dan ketemu aku di ujung sana. Kita akan bicara lagi. Setelah titik terakhir di kalimat Feby mampir di matamu. Kita akan bicara lagi mengenai novel ini.

Micki Mahendra, filmmaker, penulis novel Dunia Paralel yang akan terbit Juni 2006 . Lebih jauh dengan Micki, klik www.rettowasabi.com , mickimahendra.blogspot.com

Siapa yang berani mengatakan jadi pelacur itu mudah?

May 15th, 2006 by bukuterbuka

Bulan memilih menjadi pelacur. Entah karena frustasi dengan hidupnya yang berantakan. Entah karena rasa ingin tahunya yang mendesak.
Tapi hidupnya memang berantakan. Bulan adalah perempuan frustrasi.
Tercerabut dari keluarga besarnya. Tersepak dari karirnya sebagai wartawan. Putus asa dengan bukunya yang tak kunjung selesai. Maka cukuplah sudah alasan yang dimilikinya untuk menerjunkan diri dalam kehidupan remang-remang  pekerja seks komersial.
Simfoni bulan berlatar beberapa waktu setelah penutupan lokalisasi pelacuran di Kramat Tunggak. Diceritakan tempat itu memang sudah lama menjadi tempat bermain Bulan. Semasa bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah ternama di Jakarta, Bulan sering mendapat tugas melakukan peliputan di tempat itu. Proses itu membuatnya terikat secara emosional dengan orang- orang di dalamnya, yang membuatnya kehilangan obyektifitas ketika harus meliput penutupan area lokalisasi tersebut. Tulisan yang diturunkannya menghebohkan redaksi. Idealisme Bulan bertemu dengan kebijakan perusahaan dan pandangan umum yang berlaku di masyarakat. Berkeras dengan pendapatnya mengenai penutupan Kramat Tunggak, Bulan akhirnya terusir dari tabloid tempatnya bekerja.
Tampaknya memang sudah menjadi menu wajib para wartawan yang kemudian juga menulis fiksi, untuk tidak lupa menyertakan sedikit atau banyak kisah mengenai jurnalisme dalam karya mereka. Feby Indirani tadinya adalah seorang wartawan di sebuah majalah ekonomi. Saat ini, meskipun tidak lagi sebagai wartawan, ia bekerja di pusat data sebuah media besar, dan sesekali masih melakukan peliputan juga.
Simfoni Bulan banyak menyertakan fakta-fakta sekitar penutupan lokalisasi Kramat Tunggak, disertai ulasan-ulasan serta opini pribadi sang penulis. Meskipun tidak eksplisit, dapat dirasakan dari narasi-narasinya bahwa si penulis menyayangkan penutupan Kramat Tunggak berkaitan dengan banyaknya hidup yang bergantung pada lokalisasi itu. Maka jangan heran pula bila sesekali narasinya terasa seperti lantunan kalimat yang ada di koran atau majalah.
Sepertinya ini menjadi semacam pelarian dari para wartawan ketika tidak bisa menyuarakan pendapatnya sendiri dalam tulisan-tulisan mereka yang muncul di media massa tempat mereka bernaung, karena kadang berbenturan dengan kebijakan redaksi. Menulis fiksi menjadi semacam saluran melepaskan kegelisahan mereka.
Bagi tokoh Bulan, menjadi pelacur setelah terusir dari tabloid tempatnya bekerja mungkin adalah salah satu saluran yang tepat untuk melepaskan katup kegelisahan itu. Ia selalu bersimpati pada para pelacur itu. Toh hidupnya juga tak jauh berbeda dengan para pelacur itu. Mengeksplorasi tubuhnya pada laki-laki yang menjadi kekasihnya sejak masih remaja. Melanjutkannya dengan mengeksplorasi tubuhnya pada banyak lelaki lain sesudahnya. Mempunya hubungan gelap dengan atasannya di kantor majalah tempatnya bekerja dulu. Begitulah pikir Bulan.
Maka, seperti juga banyak terjadi pada kasus pelacuran lainnya, ketika hidup dirasa tak bersahabat lagi, menjadi pelacur adalah pilihan yang sangat masuk akal. Menjadi pelacur tidak akan mengubah apapun pada mereka kecuali bahwa kali ini mereka melakukannya demi uang. Itu saja.

Bagi tokoh Bulan, alasan lain yang tak kalah pentingnya adalah buku yang sedang ditulisnya, bercerita tentang profesi pelacur yang turun temurun dalam sebuah keluarga. Tidak ada pemahaman yang bisa memberikan penghayatan paling baik selain pengalaman. Maka demi sebuah proses mengalami, Bulan menjadikan dirinya pelacur.
Ketika selesai membaca novel ini, hal pertama yang saya rasakan adalah kasihan dan empati mendalam pada tokoh Bulan. Bulan sesungguhnya adalah perempuan frustrasi. Tercerabut dari keluarga besarnya. Tersepak dari karirnya sebagai wartawan. Putus asa dengan bukunya yang tak kunjung selesai. Bermasalah pula dalam percintaan. Lalu saya berpikir lagi, beginikah yang terjadi pada perempuan-perempuan yang mengasongkan tubuhnya?

Berawal dari kebingungan dan segudang pertanyaan yang tak terjawab oleh hidup. Menerjunkan diri dalam ‘kekacauan’ sepertinya akan membantu. Meskipun tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, tetapi akan memperjelas, setidaknya bagi mereka sendiri, bahwa hidup memang sudah hancur. Jadi kenapa repot-repot memperbaikinya lagi, bila dalam kehancuran pun roda hidup tetap berputar.
Mungkin memang itu yang diharapkan si penulis. Tidak perlu jauh-jauh berputar untuk mencari sisi atau sudut pandang lain untuk bisa lebih berempati pada para perempuan penghibur kesepian yang sesungguhnya teramat sangat kesepian ini. Lihat saja dari depan. Dari tempat yang paling mudah terlihat. Dari mata yang paling telanjang. Alasan yang paling sederhana mengapa mereka melakukannya. Uang. Ternyata tetap tidaklah mudah menjalaninya. Bahkan untuk mereka yang sudah jatuh cinta sekalipun pada pekerjaan ini. Lihat saja draft novel Bulan yang berjudul Tidak Ada Surga di Telapak Kaki Kami. Jika tiga generasi perempuan berturut-turut menjadi pelacur kelas atas, tentulah itu bukan sekadar demi menyambung hidup. Tapi toh beban tetap menggantung. Para ibu dari generasi itu tak ingin anaknya mencium kaki mereka. Karena tak akan ada surga di sana, bagaimanapun.

Saya mengagumi Feby karena rangkaian bahasa dan metaforanya yang indah dalam buku ini. Meskipun di beberapa kesempatan penjabaran faktanya masih terasa seperti ulasan berita, namun itu tertandingi oleh keindahan kata-katanya yang biasa muncul dalam perenungan tokoh Bulan. Padahal tokoh Bulan sendiri bukanlah perempuan berperangai halus lembut. Namun itulah hal lain yang saya temukan dalam buku ini. Perempuan, apapun perangainya, tetaplah mahluk yang lembut. Sekeras apapun hidupnya, air matanya tetaplah air mata yang lirih. Kemarahannya tetap saja terasa sendu.
Bahkan ketika seorang perempuan menjadi pelacur dan membuat ratusan lelaki merendah serendah-rendahnya demi kepuasan yang hanya bisa diperoleh dari tubuhnya, tetap saja ‘tampuk kekuasaan’ tak berpindah padanya.
Seperti yang dikatakan Feby pada baris-baris pertama Simfoni Bulan.Siapa yang berani mengatakan jadi pelacur itu mudah? (Annisa Nuraida)

Simfoni Bulan, Anak Pertama Feby Indirani

May 15th, 2006 by bukuterbuka
Hawe_2

  Apa sih yang ditawarkan Feby dalam novel pertamanya?

  Petunjuk pertamanya, Feby menulis cerita soal seorang penulis yang  sedang berjuang menulis sebuah novel (dan saya sedang menulis resensi  cerita seorang penulis yang bercerita tentang seorang penulis yang  sedang menulis sebuah cerita). Tersebutlah Bulan sebagai karakter  utama. Demi sebuah novel yang sedang ditulisnya, Bulan menyelami

profesi pelacur sebagai observasi partisipatorik. Dari pilihanmenjalani profesi ini, cerita Simfoni Bulan mengalir.

Ada Steve, sahabat sekaligus partner bisnis (baca: mucikari) yangmemuluskan penelitian Bulan. Ada Ny.Linda, ibunda Bulan. HubunganBulan dengan sang Ibunda tidaklah mulus. Ganjalan dari hubungan merekainilah yang membuat Bulan ingin menulis novelnya. Ganjalan yang samajuga yang membentuk karakter Bulan yang berpikiran bebas, bahkancenderung pemberontak.

Lalu, ada Bayu, anak sahabat pelacurnya, Mar. Sepeninggal kematianMar, Bayu diasuh oleh Bulan. Setiap karakter Bayu dimunculkan, Febyingin mengangkat karakter keibuan Bulan yang justru kontras dengansemangat independen dan progresifnya. Apapun itu, tidak mengganggupenggambaran karakter Bulan secara utuh.

Ada pula Gangga (kenapa pula namanya Gangga Harsya, Feb? hehe...),satu-satunya karakter lelaki "ideal" dalam novel Feby. Mungkin Febyingin menjadikan Gangga sebagai gula-gula cerita. Memasuki plot yangmenceritakan hubungan kimiawi antara Bulan dan Gangga, secara jujursaya akui saya membaui aroma Pretty Woman seri kedua. Kisah alaCinderella zaman modern ini diakhiri Feby dengan stereotipe pecahnyahubungan lelaki dan perempuan, yakni atas nama kesalahpahaman.

Dalam novel pertamanya, Feby bercerita tentang banyak hal. Sedikitbanyak karakter penulis sendiri mempengaruhi karakter utamanya, Bulan.Untuk beberapa bagian cerita, kita seperti melihat karakter Febysendiri. Kesan jenaka, usil, atau bagaimana Bulan memandang hidupnyadan bersikap mencerminkan sikap karakter Feby sendiri jika ada didalam posisi serupa. Seperti dalam halaman 37: "... Mariatun tak kalahakal. Ia memanggil seorang preman temannya untuk memegangi Bayukuat-kuat. Dengan senyum kemenangan kini Mariatun bisa bebas memotongrambut anaknya yang menjerit-jerit menolak. Saat itu Bulan mencobamenghentikan sikap Mariatun yang memaksa. Sudahlah Mar. Bukankahseorang anak seharusnya berhak menentukan model rambutnya sendiri?".Sentilan khas Feby yang sangat bernuansa hidup keseharian.

Dalam semua resensi, tentunya selalu ada kritik. Dengan tidakmengurangi rasa hormat saya pribadi kepada Feby dengan segala dayaupayanya, bangunan novel ini secara keseluruhan cenderung datar. Malahdi seperempat bagian terakhir, Feby terlalu terburu-buru mengakhiricerita. Karakter Visya yang misterius dihilangkan "begitu saja".Karakter Meerva seperti diperuntukkan bagi Aishwarya Rai untuk tampilcameo dalam versi layar lebar Simfoni Bulan. Begitupun cara mengakhirinovel yang "agak" melenyapkan ekspektasi pembaca dengan kalimatpembuka novel yang lumayan menjanjikan isi cerita dengan coretan danlumuran dunia prostitusi di sana sini. Walaupun sepertinya masihnyambung, tapi kurang terasa gregetnya. Apapun, ini hanyalah pandanganseorang saya yang masih menjajaki proyek penulisan naskah serupa dalamtahap pikiran belaka. Mungkin saya pribadi keliru mengarahkan dirisendiri dengan konsep pembukaan (seperti yang tertulis di sampulbelakang novel) yang berbunyi: "Setelah lima tahun menjadi jurnalis,Bulan memutuskan berhenti dan beralih menjadi penulis novel. Terbiasabekerja dengan fakta dan data aktual ternyata memandulkan kemampuannyaberimaginasi. Ia tak bisa menulis, jika tak mengalaminya sendiri. Makaketika hendak menulis sebuah novel tentang pelacur, persis itulah yangdijalaninya: menjadi pelacur untuk observasi partisipatoris. Demisebuah proses mengalami."

Positifnya, Feby tidak terjebak dalam sindrom penulisanjurnalis-menjadi-penulis yang mengandalkan catatan kaki sebagaireferensi cerita. Bagaimanapun, novel bukanlah tempat di mana Andamelakukan tugas jurnalistik bukan? Feby adalah seorang koki yangpiawai mengolah untaian kata-kata dalam bentuk kalimat yang mudahdimengerti dan beberapa kali berhasil menyentil dengan caranyasendiri. Tanpa perlu ikut-ikutan berkiblat kepada kebanyakan polabertutur di dalam genre novel lain yang lebih "ngepop" dan "mentah".

Banyak yang bilang saat-saat pertama adalah momen "segalanya". Sebutsaja, cinta pertama, kawin pertama, anak pertama, kerjaan pertama,mobil (kredit) pertama, rumah (kredit juga) pertama, termasuk juganovel pertama. Karya pertama seorang penulis mestinya adalah kebebasanekspresi bagi penulis sendiri yang semesti-mestinya. Memang tidakbanyak (untuk tidak mengatakan jarang) karya pertama yang langsungsukses begitu saja. Paling tidak, karya pertama dapat dijadikankesempatan merasakan panas dinginnya air kolam. Rata tidaknyapermukaan jalanan. Persis pengalaman seorang anak merasai air susuyang mengalir keluar dari puting ibunya. Tentu saja, sensasinya luarbiasa.

Menulis adalah perasaan yang luar biasa. Orgasme bagi pemain bolaadalah saat dia mencetak gol. Bagi penulis, mereka mendapatkan orgasmesetiap kali menyelesaikan naskah yang baik. Sungguh ada kepuasan yangtidak dapat terlukiskan. Feby, di titik ini, sudah mencapai orgasmedengan novel setebal 200 halaman ini lengkap dengan segala perjuanganmencapainya. Jadi, pesan moralnya, teman-teman, masturbasi saja tidakakan pernah cukup.

Sebagai gambaran besarnya, Simfoni Bulan "hanya" bercerita tentangkisah perjalanan Bulan dari satu waktu ke lainnya. Tidak terlalubanyak warna baru di dalamnya. Tetapi terus terang gaya bahasanyaadalah "sesuatu" di sini. Plot cerita yang kelihatan biasa saja dapatdiselamatkan dengan kelincahan Feby bercerita. Tidak perlu banyakbakat untuk membuktikan hal itu, melainkan kematangan penulis dalambertutur. Resepnya, demikian Feby, adalah menghindari kesempurnaan danmulai saat ini juga. Satu sikap yang belum banyak dimiliki banyakwriter-wanna-be, seperti saya sendiri salah satu contohnya. Dan, sayapercaya Feby tidak akan berhenti sampai di sini saja. 

Agung Harsya Wardhana, jurnalis, penikmat film yang review-reviewnya kerap mencerahkan-----------------------------------------------------------------------
 

Jadi Malas Baca Pram?

April 27th, 2006 by bukuterbuka

Bandot
Mo ngucapin selamat atas karya perdananya…

Baru bisa ngucapin sekarang karena baru dapet
minggu kemaren dan baru selesai baca dua hari yang
lalu setelah diselag ama trip ke luar kota selam
dua hari.

Novel itu aku beli berbarengan dengan novel om
pram yang tiba-tiba aku pengen baca lagi…

Tapi entah kenapa setelah baca novel kamu, aku gak
jadi kepengen baca noven om pram (bukan mencoba
membandingkan, hanya menyampaikan apa yang
sebenarnya terjadi)

Secara umum novel kamu…..aku hanya bisa
menyebutkan bahwa setelah sekian lama…akhirnya
aku bisa merasa tidak kecewa membeli novel yang
sebelumnya aku anggap picisan ups..sorry)

Tapi sublimasi kamu ke dalam tokoh bulan (sok tau
ye…) menghidupkan tokoh itu. Mski aku gak kenal
kamu, setidaknya deskripsi fisik bulan ‘kan kamu
banget (ya gak sih…) juga jargon BUKU
TERBUKA…et cetera…

But there’s one critic..definitely one…

kenapa seperti exhausted di endingnya…(last ten deh)

Dan kalo kamu ingen dialog kita terakhir
(sekali-kalinya..yah) sepertinya apa yang aku
deskripsikan tentang kamu, gak salah-salah amat.

Bandot Dendi Malera, Consultant, Organizer, Journalist